Pengelolaan Bisnis di Era VUCA

Oleh : 
Denny Tan - Marketing & Communication

“Setengah abad silam, keunggulan mesin, modal, dan letak geografis adalah faktor penentu atas keberhasilan sebuah bisnis perusahaan. Berkat transformasi teknologi, kompetisi bisnis yang tadinya vertical, sentralized, dan exclusive berubah menjadi horizontal, scattered, dan inclusive. Strategi bisnis yang telah dikonsepkan dengan matang di awal, dapat berubah menjadi konsep bisnis yang tidak relevan dalam hitungan waktu singkat. Jika dahulu sebuah perusahaan sibuk mencari cara untuk melaksanakan konsep dan strategi bisnisnya, kini perusahaan pun sibuk memikirkan seberapa lama konsep dan strategi tersebut dapat bertahan untuk menghadapi disrupsi pasar. Kondisi inilah yang merupakan awal penggunaan istilah VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) dalam dunia bisnis.”

 

Kemajuan teknologi telah membawa aneka transformasi dalam perkembangan bisnis. Tidak dapat dipungkiri bahwa pesatnya pemanfaatan teknologi turut berkontribusi dalam proses pemenuhan kebutuhan bisnis dan industri. Masih segar dalam ingatan kita, saat scanner barcode mulai digunakan oleh petugas kasir di pasar swalayan. Kala itu, kecanggihan teknologi barcode membuat kita merasa sangat terbantu karena durasi pembayaran di petugas kasir menjadi lebih singkat. Sebaliknya, dari sisi pelaku bisnis, petugas kasir juga merasa terbantu atas efisiensi kerja yang didapatkan. Namun, tak berselang lama, muncul istilah Radio Frequency iDentification (RFID) yang lebih canggih dengan menggunakan gelombang elektromagnetik. Bahkan, teknologi terkini yang digunakan adalah Near Field Communication (NFC) yang memudahkan pembayaran melalui penggunaan telepon genggam. Atas kemajuan teknologi yang begitu cepat, barcode yang semula dianggap canggih, sudah bisa dikatakan kuno di era sekarang ini. Hal tersebut merupakan satu di antara banyaknya contoh perubahan bisnis yang berkembang menjadi semakin ambigu dan tidak tertebak. 

Di masa lalu, VUCA adalah adalah akronim yang digunakan oleh pasukan militer Amerika untuk mendeskripsikan kondisi ekstrem di Afganistan dan Irak yang dianggap volatile, uncertain, complex, dan ambiguous. Selanjutnya, istilah ini berkembang untuk digunakan pula dalam dunia bisnis sebagai penggambaran situasi bisnis yang fluktuatif. Kondisi perubahan ini dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya politik, sosial, teknologi, budaya, dan lingkungan. Ditambah lagi, digitalisasi dalam berbagai sektor bisnis telah banyak memberikan perubahan yang sulit untuk diprediksi akibat derasnya arus dan sumber informasi.

Volatility

Komponen ini menggambarkan bahwa saat ini, tidak ada lagi bisnis yang dapat dijalankan dengan stabil akibat laju kemajuan teknologi. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyaknya inovasi yang didasarkan pada perkembangan teknologi yang pesat dan terus berubah. Menanggapi kondisi ini, pelaku bisnis juga dipaksa untuk berubah mengikuti kemajuan pemanfaatan teknologi. Suka tidak suka, proses “seleksi alam” akan berlangsung bagi pelaku bisnis. Fleksibilitas dan adaptivitas adalah unsur penting untuk bertahan dalam kompetisi industri.

Contoh kegagalan perusahaan dalam mengikuti pesatnya perubahan industri adalah perusahaan pelopor fotografi Kodak yang dinyatakan pailit pada 2012. Raksasa dunia fotografi yang telah berdiri selama lebih dari satu abad itu, terlambat dalam mengikuti transformasi teknologi fotografi. Saat kemajuan teknologi fotografi mulai melirik dan mengembangkan kamera digital, Kodak tetap berfokus pada produksi kamera analog. Menyadari bahwa pangsa pasarnya mulai digerogoti, Kodak  baru mulai tergerak untuk mengembangkan kamera digital pada awal tahun 2000-an saat kompetitor lainnya sudah berjaya sebagai pengembang kamera digital. Setelah berjuang untuk merebut kembali pasarnya, Kodak akhirnya gulung tikar dengan mengajukan proteksi pailit pada Pengadilan Pailit Amerika Serikat.

Uncertainty

Komponen ini menggambarkan bahwa tidak ada yang dapat dipastikan dalam menjalankan sebuah roda perputaran bisnis. Ketidakpastian ini membuat kondisi pasar dan industri menjadi sulit untuk dipahami, diprediksi dan ditanggulangi. Menanggapi kondisi ini, banyak perusahaan yang memutuskan untuk “diam” dan tidak melakukan perubahan atas ketidakpastian yang terjadi. Umumnya tindakan ini diambil karena adanya perasaan tidak aman (insecurity) untuk berubah dalam situasi yang juga berubah. Kondisi perusahaan seperti ini diibaratkan seperti seekor kuda yang memutuskan untuk diam saja saat melihat kerumunan kuda lain berlari ke arah yang tidak pasti, karena diam adalah hal yang dianggap aman. Namun, suatu ketika, kuda tersebut menyadari bahwa dirinya sudah tertinggal cukup jauh dan harus mengejar kuda lainnya dengan berlari dua kali lebih cepat. Oleh karena itu, berlari dalam situasi yang tidak pasti sambil mempelajari arah adalah hal yang mau tidak mau harus dilakukan oleh perusahaan dalam upaya beradaptasi.

Salah satu contoh kegagapan perusahaan dalam menyikapi kondisi dan kompetisi yang tidak pasti, misalnya terjadi pada industri perhotelan. Saat banyak hotel melakukan investasi besar – besaran dengan cara menambah jumlah cabang dan memberikan training untuk para frontliner, aplikasi online marketplace untuk mencari tempat tinggal, mulai bermunculan. Aplikasi ini berhasil mencuri perhatian pasar dengan memberikan kemudahan bagi para pemilik apartemen, kamar sewa, maupun kos untuk disewakan pada orang lain. Atas invasi dari aplikasi ini, tingkat hunian hotel pun makin tergerus dari tahun ke tahun.

Complexity

Bisnis yang semakin rumit adalah hal yang digambarkan dalam komponen ini. Beberapa dekade lalu, perusahaan cukup berfokus untuk mengejar profit atas bisnis yang dijalankan. Namun saat ini, ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk membuat perusahaan tetap sustain dalam menghadapi derasnya persaingan industri. Faktor - faktor internal seperti mission statement, penetapan action plan, manajemen risiko, dan skill set yang dimiliki oleh karyawan adalah hal yang patut untuk dipikirkan. Selain faktor internal, faktor eksternal juga memiliki andil, misalnya faktor customer engagement, stakeholder relations, CSR, dan kepatuhan regulasi. Untuk itu, kemampuan ecological thinking dari sebuah perusahaan sangat diperlukan dalam mengatasi kerumitan ini.

Ecological thinking merupakan kemampuan perusahaan dalam memetakan dan mengkaji berbagai area hubungan di luar perusahaan yang meliputi tren pasar, pelanggan, pemangku kepentingan, lingkungan fisik, hubungan kerja sama dengan pemasok dan supplier, relasi dan kebijakan pemerintah, dan area lainnya. Kemampuan ini merupakan langkah awal dalam menentukan sudut pandang, serta memetakan berbagai kemungkinan yang terjadi dalam perkembangan industri yang semakin kompleks. Hasil pemetaan tersebut merupakan modal untuk menciptakan keberlangsungan ekosistem bisnis bagi perusahaan.

Ambiguity

Salah satu hal yang disorot pada komponen ini adalah penggambaran sekat – sekat area bisnis yang kian mengabur. Di era sekarang, banyak pemain bisnis baru yang kehadirannya tidak dapat diduga. Pemain bisnis lama yang semula tidak bersinggungan dengan area bisnis kita, dapat mengekspansi area bisnisnya dan mengambil “makanan” yang sama, sehingga dapat dikategorikan sebagai kompetitor. Contoh konkret dari sekat – sekat bisnis yang mengabur adalah ekspansi bisnis yang dilakukan oleh provider ojek online di Indonesia. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bisnis yang dijalankan ojek online, awalnya bersaing dengan ojek pangkalan. Namun, seiring bertambahnya waktu, provider ojek online menambah layanan lain, misalnya layanan untuk mengantar barang yang perlahan menggerogoti pangsa pasar penyedia jasa kurir dan ekspedisi. Ditambah lagi layanan terapis pijat yang perlahan menggerogoti penyedia jasa pijat, spa dan reflexology. Pemain bisnis lama pun harus melakukan inovasi dan perubahan strategi bisnis jika ingin usahanya tetap bertahan.

Diperlukan kepekaan, adaptivitas, dan pemahaman konstruktif dalam menghadapi VUCA

Perusahaan yang adaptif merupakan suatu kemampuan mendasar yang diperlukan dalam upaya mencapai keberhasilan bisnis. Ditambah lagi, situasi bisnis yang berubah secara cepat, membuat perusahaan perlu memiliki kepekaan dalam melihat peluang, risiko dan tantangan yang dihadapi. Selain itu perusahaan juga perlu memiliki pemahaman konstruktif dalam memadukan kompetensi manajerial dengan kompetensi karyawannya. Dapat disimpulkan, sebuah perusahaan yang mampu bertahan di era VUCA adalah perusahaan yang mampu mengombinasikan aspek visi, kompetensi, insentif, budaya, sumber daya, dan pola kepemimpinan secara padu. Unsur – unsur tersebut diperkuat pula dengan inisiasi perusahaan dalam membangun inovasi untuk terus berkembang dalam mencapai tujuan bisnisnya.