Mengenal Program Healthy Diet bagi Perusahaan

Oleh : 
Budi Utomo - Assistant Manager Consultant

Dalam konteks pengelolaan perusahaan, kerap kali kita mendengar istilah “Lean Process”. Ada banyak cara untuk bisa menjabarkan sekaligus menjelaskan konsep ini, salah satunya adalah dengan melalui analogi sederhana yang bisa ditemui dalam kehidupan kita sehari – hari. Ketika mencari kata yang sepadan untuk “Lean”, analogi sederhana yang dapat dikaitkan adalah dengan mengibaratkan lean process sebagai healthy diet atau diet sehat. Diet merupakan program kesehatan dalam menjaga penampilan tubuh dengan merancang menu makanan dan jadwal makan yang diperlukan secara ideal oleh tubuh. Hal ini tentunya diimbangi dengan olah raga dan istirahat yang cukup. Selanjutnya berbagai racun dan zat yang tidak banyak dibutuhkan oleh tubuh seperti lemak dan kolesterol akan dikurangi dengan healthy diet.

Dalam lean ada tiga kategori dalam menentukan zat atau aktivitas bagi perusahaan yaitu:

1. Value add adalah aktivitas yang bernilai tambah bagi pelanggan.

2. Value enabler adalah aktivitas yang tidak dibutuhkan bagi pelanggan namun dibutuhkan bagi perusahaan.

3. Non-value add adalah aktivitas yang tidak dibutuhkan bagi pelanggan maupun bagi perusahaan dan dalam arti kata lain merupakan sebuah pemborosan.

Berbeda dengan value add dan non-value add, value enabler relatif jarang dipakai, value enabler merupakan segala aktivitas yang tidak dibayar oleh pelanggan namun tetap kita lakukan karena faktor risk management, regulasi, kebijakan perusahaan. Contohnya, melakukan pemeriksaan dengan prinsip empat mata (four-eyes principle) atas aplikasi kredit di bank bukanlah aktivitas yang dibutuhkan pelanggan. Aktivitas ini tetap dilakukan karena regulasi mewajibkan adanya aktivitas ini untuk meminimalkan resiko.

Fokus utama dari lean adalah menghilangkan pemborosan pada aktivitas perusahaan anda, maka sangat penting bagi kami untuk memahami apa saja pemborosan yang dimaksud. Berikut ini adalah 8 jenis pemborosan yang umum dikenal di dalam konsep lean, yang lebih dikenal dengan akronim D.O.W.N.T.I.M.E.

1. Defect

Memproduksi barang cacat, sehingga membutuhkan pengerjaan ulang atau bahkan dibuang karena tidak bisa diperbaiki.  Secara jelas, hal ini merupakan pemborosan pemakaian material, waktu, tenaga kerja, dan sumber daya lainnya dan merupakan tindakan yang sia – sia.

2. Overproduction

Memproduksi lebih banyak dari permintaan, atau memproduksi sebelum diinginkan. Hal ini terlihat pada simpanan material dan terjadi akibat dari produksi permintaan spekulatif.

3. Waiting

Waktu tunggu dalam proses yang harus dihilangkan. Prinsipnya adalah memaksimalkan efisiensi pekerja daripada memaksimalkan penggunaan mesin.

4. Not Utilized Skill People

Waktu, gagasan, keterampilan, peningkatan, dan kesempatan belajar yang hilang karena tidak melibatkan atau mendengarkan masukan dari karyawan.

5. Transportation

Banyak transportasi yang disebabkan layout pabrik yang buruk, pemahaman yang buruk terhadap aliran proses produksi, ukuran lot yang besar, lead time yang panjang, dan area penyimpanan yang luas.

6. Inventory

Material antar operasi yang timbul karena lot produksi besar atau proses-proses yang terjadi dengan waktu siklus yang panjang.

7. Motion

Gerakan-gerakan tubuh yang tidak perlu, seperti mencari, meraih, memutar dan membuat proses memakan waktu yang lebih lama.

8. Excess Processing

Adanya proses yang berlebih yang tidak diperlukan.

 

Sama halnya dengan sebuah perusahaan jika ingin hidup sehat perlu melakukan program healthy diet. Pertanyaanya, sudahkah kita mengenali zat pemborosan apa saja yang saat ini berada pada sel sel atau aktivitas perusahaan anda?. Setelah mengetahui beragam zat pemborosan dalam perusahaan anda, pertanyaan besar selanjutnya adalah bagaimana memulainya?

Terdapat tahapan bagaimana kita menyikapi zat atau aktivitas pemborosan pada perusahaan yaitu:

1. Memahami konsep value pelanggan.

2. Mengenali waste/pemborosan.

3. Menghilangkan pemborosan, jika tidak dapat dilakukan maka mengurangi pemborosan. Jika masih tidak bisa, kurangi dampaknya.

 

Saat ini, kunci utama yang membedakan perusahaan yang gagal dan berhasil bukan lagi sekedar ukuran. Perusahaan besar ataupun kecil dituntut mampu untuk menjadi lebih agile

Tantangan perusahaan anda adalah menjadi lincah dan senantiasa dapat bersikap adaptif dengan cepat terhadap perubahan model bisnis dan persaingan, begitu juga dengan adaptasi terhadap teknologi baru yang sedang berkembang.

Sikap “lincah” yang dibutuhkan antara lain:

1. Menjadi lincah terhadap perubahan yang terjadi.

2. Menjadi lincah pada kegiatan operasionalnya dalam mengirimkan produk/jasa kepada pelanggan.

3. Menjadi lincah dalam hal inovasi produk.

4. Menjadi lincah dalam pengelolaan cashflow keuangannya.

5. Mengaplikasikan  sikap lincah kepada pegawai – pegawai anda  (agile workers).

Program healthy diet membutuhkan waktu yang cukup dan mustahil jika dicapai dalam waktu semalam untuk melihat hasil pada tubuh yang prima dan sehat. Sama hal nya dengan penerapan ”Lean” memerlukan waktu yang cukup dan perencanaan yang matang untuk mengimplementasikannya.

 

“Lean thinking defines the value as providing benefit to the customer; anything else is waste.”

-Eric Ries-